Memoar of Event

Memoar of Event
Lets Picture Talk

Rabu, 03 Agustus 2011

Tadarrus


RAMADHAN MOMENTUM MENYUCIKAN JIWA DAN RAGA
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Ketua Majelis Tabligh Muhammadiyah Kota Tangerang)

Seiring datangnya bulan Ramadhan, inilah saatnya bagi umat Islam untuk membersihkan ruhani dan jasmaninya dari berbagai kotoran dan penyakit. Ibadah shaum memberikan dampak positip bagi kesehatan ruhaniah maupun jasmaniah manusia. Allah memerintahkan orang beriman melakukan Ibadah shaum sebulan penuh selama bulan Ramadhan dengan menahan lapar, haus, dan keinginan syahwat sejak terbit fajar sampai matahari terbenam, untuk meningkatkan derajat ketakwaannya.
Sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an, Ibadah shaum juga biasa dikerjakan oleh umat –umat terdahulu. Orang Mesir dan Yunani kuno, pemeluk paham Zoroaster, Shinto, Budha, Hindu , Yahudi dan Kristen memiliki tradisi shaum menurut keyakinan mereka. Mereka berpuasa untuk mendapatkan berkah dari para dewa dan sembahan mereka. Ada juga kelompok orang tertentu yang berpuasa dalam rangka olah batin untuk meningkatkan kesaktian atau memenuhi hajat tertentu.
Umat Islam diwajibkan melaksanakan ibadah shaum selama bulan Ramadhan. Ibadah shaum sebulan penuh selama bulan Ramadhan jika dilakukan dengan tepat dan benar dapat memberikan dampak positif bagi kesehatan ruhani maupun jasmani. Namun sayang banyak orang yang melakukan Ibadah shaum asal-asalan saja, sehingga Rasulullah mengatakan: “Berapa banyak orang yang beribadah shaum namun mereka tidak mendapatkan selain lapar dan haus saja”. Berkaitan dengan hal ini Rasulullah menegaskan bahwa sesungguhnya Ibadah shaum itu ada tiga tingkatan, yakni shaum orang awam, shaum khawas dan shaum khawasul khawas.
Ibadah shaum orang awam (umum) adalah sekedar menahan lapar dan haus sejak terbit fajar sampai terbenam matahari. Sedang shaum orang khawas adalah menahan makan minum serta perbuatan yang membatalkan pahala shaumnya, seperti bergunjing, mengumpat atau mencela orang lain. Matanya terpelihara dari memandang hal yang dapat membangkitkan syahwat. Telinganya terpelihara dari mendengar ucapan yang sia sia seperti bergunjing atau mendengar musik yang tak menentu. Ibadah shaum khawasul khawas adalah shaumnya orang-orang yang disamping menjaga panca indra dari hal tercela berusaha melakukan ibadah yang dicintai Allah, seperti memperbanyak membaca dan mentadabburi Qur’an, mendengar ayat suci Qur’an, dan mengingat Allah.
Rasulullah mengatakan :  Shuumu tasshihuu! (berpuasalah kalian agar sehat)”. Ilmu pengetahuan membuktikan bahwa sebagian besar penyakit bersumber dari perut. Pola makan yang buruk telah memicu berbagai penyakit degeneratif pada masyarakat perkotaan . Kolesterol , darah tinggi, diabetes, asam urat, jantung koroner, gangguan maag, stroke dan lain sebagainya. Nabi saw bersabda: “Tidaklah seorang anak Adam mengisi wadah yang lebih buruk dari perutnya. Sebenarnya beberapa suap saja sudah cukup untuk menegakkan tulang rusuknya. Jika terpaksa dia harus mengisinya, maka sepertiga untuk makanannya, sepertiga untuk minumnya, dan sepertiga lagi untuk bernafas (HR. Turmudzi, Ibnu Majah dan Ahmad).
Pola makan yang buruk dan berlebihan terbukti menjadi sumber dari berbagai penyakit yang diidap masyarakat dunia dewasa ini. Pola makan seimbang, tidak berlebihan, dan puasa atau diet terbukti menjadi obat mujarab dari berbagai penyakit degeneratif. Puasa memiliki banyak hikmah dan manfaat bagi kesehatan tubuh. Ketika berpuasa organ penting tubuh seperti lambung, jantung, pankreas, liver mendapat kesempatan untuk beristirahat. Sel tubuh yang berjumlah miliaran mendapat kesempatan untuk meremajakan diri dan menghimpun kekuatan untuk memperbaiki berbagai kerusakan yang terjadi didalam tubuh.
Puasa juga berfungsi sebagi detokfikasi untuk mengeluarkan kotoran, toksin dan racun berbahaya dari jaringan tubuh. Tentu saja semua efek positip tersebut hanya terjadi jika puasa dilakukan dengan tepat dan benar. Sesuai dengan tujuannya, puasa di bulan Ramadhan diwajibkan bagi setiap orang yang ber iman untuk mencetak manusia-manusia yang bertakwa kepada Allah SWT. Sang Khalik berfirman dalam Alquran surah Al-Baqarah ayat 183, "Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Puasa bulan Ramadhan merupakan sarana untuk memproses, mengolah diri dan jiwa yang berpuasa menjadi hamba yang berkepribadian takwa. Pribadi yang takwa (muttaqin) seperti disebutkan dalam surat Al-Baqarah ayat 1-5 dan Ali-'Imran ayat 133-136. Dalam surah Al-Baqarah disebutkan ciri pribadi yang muttaqin itu antara lain; beriman kepada yang gaib, melaksanakan shalat, menginfakkan sebagian rezekinya, beriman kepada Alquran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW dan kitab-kitab sebelumnya serta meyakini hari akhir

Sabtu, 30 Juli 2011

Essay Sastra


SEDIKIT BEKAL UNTUK “PERJALANAN-PERJALANAN”
(Pengantar Naskah Drama “Maling Is My Life”)
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Wakil Rektor III UMT)

Kalau Anda membuka kamus Webster’s New World Dictionary (1989) Anda akan menjumpai entri ‘drama’ (hlm. 413) dan theater or theatre (hlm. 1386). Drama diartikan sebagai “a literary composition that tell a story, usually of human conflict, by means of dialogue and action, to be performed by actors”. Atau disalin secara bebas “suatu karangan yang mengisahkan suatu cerita yang mengandung konflik yang disajikan dalam bentuk dialog dan laga, dan dipertunjukkan oleh para actor di atas pentas”, sedangkan kata theater diartikan sebagai ‘a place where plays, operas, films, etc. are presented”, atau ‘suatu tempat di mana lakon-lakon, opera-opera, film-film, dsb. dipertunjukkan”.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) drama memiliki beberapa pengertian. Pertama, drama diartikan sebagai komposisi syair atau prosa yang diharapkan dapat menggambarkan kehidupan dan watak melalui tingkah laku (akting) atau dialog yang dipentaskan. Kedua, cerita atau kisah terutama yang melibatkan konflik atau emosi, yang khusus disusun untuk pertunjukan teater. Ketiga, kejadian yan menyedihkan.
Dalam sejarahnya (Barranger, 1994) kata drama dan teater memiliki arti yang berbeda. Drama berasal dari bahasa Yunani dran yang berarti ”to do” atau ”to act” (berbuat). Kata teater juga berasal dari Yunani theatron yang berarti ”a place for seeing” (tempat untuk menonton), dengan demikian kata teater mengacu pada suatu tempat di mana aktor-aktris mementaskan lakon. Dengan kata lain, secara lebih mudah, kata drama diartikan sebagai lakon yang dipertunjukkan oleh para aktor di atas pentas. Ciri khas dari drama adalah, naskahnya berbentuk percakapan atau dialog. Dan merupakan representasi tingkah polah umat manusia dalam kehidupan sehari-hari untuk diucapkan di atas panggung sebagai pesan hidup untuk pencerahan demi melahirkan kearifan.
Apa sebenarnya yang tak bisa dipetik oleh orang-orang yang setiap hari menyaksikan banyak kejadian dalam hidup dan kehidupannya? Setiap hari kita dijejali dengan berbagai kisah kehidupan, entah itu sedih ataupun senang. Setiap hari juga kita menonton tayangan kehidupan antar manusia, entah hina ataupun bersahaja. Setiap hari yang terdiri dari rajutan waktu, yang kita bongkar lembar demi lembar untuk mengurai problematika yang ada. Mungkin bukan karena tak ada yang bisa dipetik dari rentetan kejadian itu, tapi jangan-jangan karena kita enggan untuk memetiknya, sehingga hikmah hilang begitu saja, melangkah jauh, hilang tak berbekas
Ada bangsa kera, yang terkenal dengan kedunguan dan kelicikannya, pernah hidup di bumi ini. Tidak tanggung-tanggung, seorang Musa, seorang Yusuf dan seorang Isa pun pernah diutus untuk memperbaiki tingkah polah kehidupan mereka, sayang sikapnya tak berubah, malah makin menambah-nambah. Sayang sekali, mukjizat di balas dengan kedunguan hati yang hitam pekat. Perintah untuk memasuki Bumi Suci yang dijanjikan mereka tolak dengan dengan hati pengecut meminta dispensasi, “Ya Musa, engkau berperang berdua saja dengan Tuhanmu”.
Padahal sesaat sebelum itu, bangsa kera itu telah menyaksikan bagaimana Laut Merah terbelah dan Fir’aun tenggelam di dalamnya. Maka apa lagi yang mereka ragukan? Bahwa bersama Musa dan Tuhannya, mereka akan hidup makmur penuh kedamaian berdiam di Bumi Suci yang dijanjikan. Ah, andai mereka berfikir, mereka tidak perlu dihukum tersesat selama 40 tahun di Padang nan gersang.
Belakangan ini kita juga disuguhkan berita tentang ulah anggota DPR, pejabat publik yang berprofesi ganda menjadi mafia proyek, mafia anggaran, mafia pajak hingga mafia pemilu. Dan terlepas dari mencuatnya berita tersebut adalah karena alasan politis atau tidak, tapi nyatanya kita disuguhkan drama penggarongan harta rakyat yang kian menjadi kultur. Menjadi maling, kaum klepto, atau garong pada beberapa orang mungkin itu adalah ungkapan kesenangan di dalam hati, gairah ketertarikan yang terekam oleh mata dan gelora kenikmatan yang berdiam di sanubari. Tidak ada yang salah dengan menjadi anggota dewan, atau pejabat publik. Menjadi pejabat publik, penguasa, presiden, Gubernur, Walikota itu tidak salah, bahkan sebuah kehormatan dan amanah asal paham hakikat .
Ah, tidak tahukah mereka, jika di gedung dewan yang terhormat saja menjadi sarang penyamun, apalagi di pinggir-pinggir perumahan kumuh rakyatnya. maka jangan terlalu heran, dipinggiran negeri ini, telah menjamur budaya klepto, menjadi maling sudah menjadi profesi terhormat “Maling Is My Life”, lengkap dengan penadah, penjarah, begal, rampok dan bahkan bajak daratnya. Sudahlah, jangan lanjutkan pembahasan ini sampai ke kota-kota besar, bisa makin pilu hati ini….
Ntah lah, ada begitu banyak kejadian dalam hidup ini, seharusnya ada beribu hikmah yang bisa dipetik, lalu disebar sebagai bibit kearifan, hingga akhirnya mampu menumbuhkan berjuta pohon kebaikan. Kalau tidak ada hikmah yang bisa dipetik, mungkin selama ini kita hanya melihat kejadian berdasarkan fenomena. Sudah saatnya kita kita ubah cara pandang kita, "jangan lihat hidup dari fenomena, lihatlah dari hakikat". Jika masih belum berhasil juga, mungkin hati kita yang telah gersang, kekeringan menunggu mati. Jangan sampai itu berlarut-larut, berdoalah. Ya, ketika ramainya pesan hidup tak jua melahirkan kearifan, maka berdoalah…. Ya Tuhan kami, bukakan pintu hati kami…

Essay

AKTUALISASI TRI-KOMPETENSI IKATAN MAHASISWA MUHAMMADIYAH
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd*

 HISTORISITAS LATAR BELAKANG BERDIRINYA IMM
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah merupakan bagian dari AMM (Angkatan Muda Muhammadiyah) yang merupakan organisasi otonom dibawah Muhammadiyah. Kelahiran IMM tidak lepas kaitannya dengan sejarah perjalanan Muhammadiyah, dan juga bisa dianggap sejalan dengan faktor kelahiran Muhammadiyah itu sendiri. Hal ini berarti bahwa setiap hal yang dilakukan Muhammadiyah merupakan perwujudan dari keinginan Muhammadiyah untuk memenuhi cita-cita sesuai dengan kehendak Muhammadiyah dilahirkan.
Di samping itu, kelahiran IMM juga merupakan respond atas persoalan-persoalan keummatan dalam sejarah bangsa ini pada awal kelahiran IMM, sehingga kehadiran IMM sebenarnya merupakan sebuah keharusan sejarah. Faktor-faktor problematis dalam persoalan keummatan itu antara lain ialah sebagai berikut (Farid Fathoni, 1990: 102), yaitu ; Situasi kehidupan bangsa yang tidak stabil, pemerintahan yang otoriter dan serba tunggal, serta adanya ancaman komunisme di Indonesia, Terpecah-belahnya umat Islam dalam bentuk saling curiga dan fitnah, serta kehidupan politik ummat Islam yang semakin buruk.
Selain itu, kehidupan kampus (mahasiswa) terkotak-kota ke dalam berbagai orientasi kepentingan politik praktis, melemahnya kehidupan beragama dalam bentuk merosotnya akhlak, dan semakin tumbuhnya materialisme-individualisme, Sedikitnya pembinaan dan pendidikan agama dalam kampus, serta masih kuatnya suasana kehidupan kampus yang sekuler, Masih membekasnya ketertindasan imperialisme penjajahan dalam bentuk keterbelakangan, kebodohan, dan kemiskinan, Masih banyaknya praktek-praktek kehidupan yang serba bid’ah, khurafat, bahkan ke-syirik-an, serta semakin meningkatnya misionaris-Kristenisasi, Kehidupan ekonomi, sosial, dan politik yang semakin memburuk.
Dengan latar belakang tersebut, sesungguhnya semangat untuk mewadahi dan membina mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah telah dimulai sejak lama. Semangat tersebut sebenarnya telah tumbuh dengan adanya keinginan untuk mendirikan perguruan tinggi Muhammadiyah pada Kongres Seperempat Abad Muhammadiyah di Betawi Jakarta pada tahun 1936. Pada saat itu, Pimpinan Pusat Muhammadiyah diketuai oleh KH. Hisyam (periode 1934-1937). Keinginan tersebut sangat logis dan realistis, karena keluarga besar Muhammadiyah semakin banyak dengan putera-puterinya yang sedang dalam penyelesaian pendidikan menengahnya.
Di samping itu, Muhammadiyah juga sudah banyak memiliki amal usaha pendidikan tingkat menengah. Gagasan pembinaan kader di lingkungan maha-siswa dalam bentuk penghimpunan dan pembinaan langsung adalah selaras dengan kehendak pendiri Muhammadiyah, KHA. Dahlan, yang berpesan bahwa “dari kalian nanti akan ada yang jadi dokter, meester, insinyur, tetapi kembalilah kepada Muhammadiyah”. Dengan demikian, sejak awal Muhammadiyah sudah memikirkan bahwa kader-kader muda yang profesional harus memiliki dasar keislaman yang tangguh dengan kembali ke Muhammadiyah.
Namun demikian, gagasan untuk menghimpun dan membina mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah cenderung terabaikan, lantaran Muhammadiyah sendiri belum memiliki perguruan tinggi. Belum mendesaknya pembentukan wadah kader di lingkungan mahasiswa Muhammadiyah saat itu juga karena saat itu jumlah mahasiswa yang ada di lingkungan Muhammadiyah belum terlalu banyak. Dengan demikian, pembinaan kader mahasiswa Muhammadiyah dilakukan melalui wadah Pemuda Muhammadiyah (1932) untuk mahasiswa putera dan melalui Nasyi’atul Aisyiyah (1931) untuk mahasiswa puteri.
Pada Muktamar Muhammadiyah ke-33 tahun 1956 di Palembang, gagasan pendirian perguruan tinggi Muhammadiyah baru bisa direalisasikan. Namun gagasan untuk mewadahi mahasiswa Muhammadiyah dalam satu himpunan belum bisa diwujudkan. Untuk mewadahi pembinaan terhadap mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah, maka Muhammadiyah membentuk Badan Pendidikan Kader (BPK) yang dalam menjalankan aktivitasnya bekerja sama dengan Pemuda Muhammadiyah. Gagasan untuk mewadahi mahasiswa dari ka-langan Muhammadiyah dalam satu himpunan setidaknya telah menjadi polemik di lingkungan Muhammadiyah sejak lama.
Perdebatan seputar kelahiran Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah berlangsung cukup sengit, baik di kalangan Muhammadiyah sendiri maupun di kalangan gerakan mahasiswa yang lain. Setidaknya, kelahiran IMM sebagai wadah bagi mahasiswa Muhammadiyah mendapatkan resistensi, baik dari kalangan Muhammadiyah sendiri maupun dari kalangan gerakan mahasiswa yang lain, terutama Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Di kalangan Muhammadiyah sendiri pada awal munculnya gagasan pendirian IMM terdapat anggapan bahwa IMM belum dibutuhkan kehadirannya dalam Muhammadiyah, karena Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah masih dianggap cukup mampu untuk mewadahi mahasiswa dari kalangan Muhammadiyah.
Di samping itu, resistensi terhadap ide kelahiran IMM pada awalnya juga disebabkan adanya hubungan dekat yang tidak kentara antara Muhammadiyah dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Hubungan dekat itu dapat dilihat ketika Lafrane Pane mau menjajagi pendirian HMI. Dia bertukar pikiran dengan Prof. Abdul Kahar Mudzakir (tokoh Muhammadiyah), dan beliau setuju. Pendiri HMI yang lain ialah Maisarah Hilal (cucu KHA. Dahlan) yang juga seorang aktifis di Nasyi’atul Aisyiyah. Bila asumsi itu benar adanya, maka hubungan dekat itu selanjutnya sangat mempengaruhi perjalanan IMM, karena dengan demikian Muhammadiyah saat itu beranggapan bahwa pembinaan dan pengkaderan mahasiswa Muhammadiyah bisa dititipkan melalui HMI (Farid Fathoni, 1990: 94).
Fakta ini bisa dilihat dari perdebatan tentang kelahiran IMM. Pimpinan Muhammadiyah di tingkat lokal seringkali menganggap bahwa kelahiran IMM saat itu tidak diperlukan, karena sudah terwadahi dalam Pemuda Muhammadiyah dan Nasyi’atul Aisyiyah, serta HMI yang sudah cukup eksis (dan mempunyai pandangan ideologis yang sama). Pimpinan Muhammadiyah pada saat itu lebih menganakemaskan HMI daripada IMM. Hal ini terlihat jelas dengan banyaknya pimpinan Muhammadiyah, baik secara pribadi maupun kelembagaan, yang memberikan dukungan pada aktivitas HMI. Di kalangan Pemuda Muhammadiyah juga terjadi perdebatan yang cukup sengit seputar kelahiran IMM.
Setelah mengalami polemik yang cukup serius tentang gagasan untuk mendirikan IMM, maka pada tahun 1956 polemik tersebut mulai mengalami pengendapan. Tahun 1956 bisa disebut sebagai tahap awal bagi embrio operasional pendirian IMM dalam bentuk pemenuhan gagasan penghimpun wadah mahasiswa di lingkungan Muhammadiyah (Farid Fathoni, 1990: 98). Pertama, pada tahun itu (1956) Muhammadiyah secara formal membentuk kader terlembaga (yaitu BPK). Kedua, Muhammadiyah pada tahun itu telah bertekad untuk kembali pada identitasnya sebagai gerakan Islam dakwah amar ma’ruf nahi munkar Ketiga, perguruan tinggi Muham-madiyah telah banyak didirikan. Keempat, keputusan Muktamar Muhammadiyah bersamaan Pemuda Muhammadiyah tahun 1956 di Palembang tentang “….. menghimpun pelajar dan mahasiswa Muhammadiyah agar kelak menjadi pemuda Muhammadiyah atau warga Muhammadiyah yang mampu mengembangkan amanah.”

INTROSPEKSI DAN RETROSPEKSI IMM
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) sebagai bagian dari Angkatan Muda Muhammadiyah, memiliki posisi yang strategis dalam membangun tradisi pembaharuan di Muhammadiyah. dengan basis kekuatan yang ada dikampus-kampus. IMM sebagai organisasi otonom diharapkan dapat memenuhi kebutuhan kader-kader akademis di masa depan. peran dan fungsinya meniscayakan ikatan untuk selalu melakukan reorientasi dan penajaman visi, misi, peran dan agenda strategis dalam membangun gerakan yang kuat konstruktif baik dari segi landasan pemikiran maupun program aksinya.
Selain itu juga, IMM sebagian dari generasi muda Islam perlu mengambil peran lebih besar dalam gerakan kultural partisipatoris yang selalu terlibat dengan sangat intens dalam mengambil peran-peran sosial baik diwilayah infrastruktur maupun suprastruktur. moderenisasi yang sangat kompleks belum terimbangi dengan kualitas ummat menjadi tanggung jawab IMM dan generasi Islam lainnya untuk menyiapkan sumberdaya manusia yang berkualitas dan kompetitif. Oleh karenanya dibutuhkan formulasi strategis dan taktik yang tepat untuk berhadapan dengan intuisi ummat kini dan masa depan.
Fastabiqul khairat sebagai falsafah dasar Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), menggambarkan bahwa ikatan memiliki tujuan yang sinergis dengan Muhammadiyah dalam beramal ma’ruf nahi mungkar dan berlomba-lomba dalam urusan kebaikan demi kemaslahatan umat, bangsa dan negara. Sebagai organisasi otonom Muhammadiyah, IMM memiliki peran stategis yakni sebagai kader intelektual Muhammadiyah yang nantinya diharapkan  mampu melanjutkan estafet  di berbagai tingkatan kepemimpinan dalam masyarakat berbangsa dan bernegara.
Sebagai sebuah introspeksi dan retrospeksi diri, persoalan mendasar yang mungkin dihadapi organisasi kemahasiswaan di Indonesia, khususnya IMM sendiri, mungkin salah satu masalah urgen yang harus dibenahi adalah proses pengkaderan yang kini terasa kian memudar dan kurang ditangani secara baik sehingga kader yang lahir kurang militan. Kalau mau jujur, harus kita katakan bahwa besarnya sebuah organisasi sudah pasti tolok ukurnya adalah dari kader-kader yang lahir dari organisasi itu. Seorang aktivis sejatinya lahir dari basic organisasi yang kuat, dan mengikuti pengkaderan yang berjenjang dari tingkatannya. Bukan aktivis instan yang hanya mengejar popularitas sesaat. Artinya, mata rantai pengkaderan inilah yang kurang tertangani secara serius dan baik.
Nah, inilah salah satu tugas besar organisasi kemahasiswaan untuk terus melahirkan kader-kader militan dan berkualitas untuk dapat menjalankan perannya di tengah masyarakat dan mampu melanjutkan estafet kepemimpian secara kontinu dan berkelanjutan, sehingga  mampu merealisasikan visi misi gerakan yakni sebagai agent of change. IMM pada dasarnya sudah menetapkan standar pengkaderan dengan adanya tri kompetensi kader yakni kemahasiswaan, keagamaan dan kemasyarakatan.
Inilah mestinya yang harus dibenahi dalam pengkaderan IMM, yaitu bagaimana menumbuhkankembangkan  aktifitas intelektual di kalangan kader menjadi agenda penting yang perlu dipikirkan bersama. Ditambah lagi, salah satu masalah internal di IMM sendiri adalah kurang solidnya alumni IMM dalam membangun jaringan dan kekuatan. Ini adalah otokritik terhadap IMM baik yang masih berada di lingkaran maupun para alumni yang sudah berada di luar lingkaran.
Kalaulah bisa dikatakan, IMM sudahlah kadernya yang sedikit, alumninya pun kurang solid dalam membangun ikatan. Padahal, peran para aktivis IMM dengan alumni akan saling menguatkan ikatan. Hal ini perlu dibincangkan bersama bagaimana agar IMM menjadi payung besar bagi warganya baik yang masih terikat aktif maupun alumninya yang sudah beraktivitas di berbagai lini. Alumni adalah potensi. Pun alumni mestinya bisa merangkul junioran serta memberi  kontribusi positif bagi perkembangan IMM.
Persoalan ini masih menyangkut masalah dalam internal ikatan IMM. Selain masalah internal, IMM juga menghadapi tantangan yang lebih berat yakni soal daya saing dengan gerakan-gerakan mahasiswa lainnya. IMM mempunyai ciri khas sebagai organisasi otonom Muhammdiyah yang landasan filosofisnya adalah melakukan pembaharuan. Ini merupakan modal kuat yang mencirikan IMM sebagai kaum muda yang kritis dan tanggap dengan masalah-masalah social di sekitarnya. Untuk itu, IMM mau tidak mau harus tampil sebagai garda terdepan sebagai penyuara kebenaran dan penyampai aspirasi rakyat.
IMM harus cerdas menyikapi berbagai  persoalan kebangsaan dan tampil sebagai generasi unggul sesuai dengan mottonya unggul dalam ilmiah dan anggun dalam amaliah. Bagaimana melahirkan kader-kader unggul ini perlu proses pembelajaran yang tidak sebentar dan pengkaderan yang berjenjang.  Kesuksesan terbesar IMM adalah bisa menghasilkan kader –kader unggul di tengah lingkungan masyarakatnya. Ini adalah tugas besar IMM sebagai rumah bagi generasi intelektual. IMM adalah kawah candra dimuka untuk melahirkan generasi unggul, cerdas, kritis dan berdaya saing. Dan di  usianya yang  terus bertambah IMM semakin kokoh dan mapan sebagai  social movement dan agent of  change di tengah masyarakat

MENAJAMKAN TRIKOMPETENSI KADER IMM
Proses kaderisasi sesungguhnya dibagi menjadi dua bagian yaitu saat kaderisasi dan pasca kaderisasi. Saat  kaderisasi adalah saat dimana proses doktrinasi berlangsung, proses doktrinisasi ini berupaya untuk membekali diri seorang kader dengan tujuan dasar organisasinya. Tidak hanya itu,  proses ini berusaha dengan serius meyakinkan sang kader bahwa ia tak salah memilih organisasi. Metode yang digunakan dalam proses ini adalah materi dan diskusi mengenai keorganisasian
Pasca kaderisasi, proses dimana seniormemberikan arahan – arahan, masukan-masukan, dan semangat bagi kader baru. Artinya kader yang baru saja ikut DAD harus secara intensif dan kontinu  di berikan follow up, tapi bukan berarti “mendikte” kader baru, melainkan berusaha untuk mengembangkan kreasi dan imajinasi kader baru. Metode yang digunakan adalah dengan cara menjaga harmonisasi dan membantu mencarikan solusi – solusi pemecahan masalah bagi kader baru, sehingga yang tercipta kemudian adalah keyakinan sang kader bahwa ia tak salah memilih IMM.
Kedua adalah pemantapan keberadaan dan partisipasi IMM dalam menunaikan tugas, kewajiban, dan tanggung jawabnya dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Ketiga, peneguhan pemahaman, pengetahuan, dan ketrampilan kader IMM dalam menjalankan organisasi untuk diabdikan bagi kemajuan masyarakat. Keempat, terwujudnya kader – kader IMM yang “unggul”, tercerahkan, kreatif, inovatif, dan memiliki kepribadian yang berderajat tinggi, serta tetap berpegang teguh pada trikompetensi IMM.
Kemahasiswaan dalam trikompetensi IMM diartikan sebagai gerakan mahasiswa sebagai kaum intelektual dalam  mengontrol jalannya pemerintahan agar kebijakannya populis dan berpihak pada rakyat. Peran IMM adalah jelas sebagai pejuang aspirasi rakyat. Peran keagamaan adalah ruh gerakan dan sumber inspirasi dalam gerakan sosial serta tujuan dari gerakan sosial yang dilakukan oleh ikatan dalam melakukan transformasi sosial. Sementara peran IMM dalam kemasyarakatan adalah dengan turut serta mencerdaskan masyarakat karena masyarakat adalah massa real pelaksana transformasi sosial.
Motto IMM “Ilmu amaliah dan amal ilmiah”  perlu dikejawantahkan secara riil dengan kembali pada khittah gerakan IMM, yakni melakukan gerakan dakwah di kampus-kampus dan kembali ke basis-basis perkaderan IMM. Menghadirkan kembali ruh intelektualitas dan religiusitas bisa menjadi spirit yang bisa digali dari akar budaya lahirnya IMM sebagai gerakan mahasiswa Islam. Untuk itu, perlu diaktifkan kembali kelompok-kelompok diskusi dari tingkatan komisariat. Dari diskusi-diskusi inilah akan mampu melahirkan pemikiran kritis khas mahasiswa. Rendahnya budaya baca, budaya diskusi dan aktivitas tulis menulis serta makin minimnya aktifitas dakwah di mesjid-mesjid oleh kalangan mahasiswa menjadi tentu keprihatinan kita bersama.
Dalam konteks pengembangan gairah intelektualitas ini, kader-kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tidak mungkin mengelak dari konsep genuine pendiriannya sebagai gerakan intelektual. Intelektualitas sebagai konsekuensi ke-Islam-an seseorang memerlukan pemetaan untuk membentuk jati diri yang lebih mantap. Dialektika identitas diri dari konsep Ulil Albab, Intelektual-Intelegensia, hingga Intelektual Organik perlu direlasikan dengan idealisme dakwah Islam, profesionalisme kader dan pemihakan. Sehingga peran kesejarahan IMM akan kian mantap dalam proses perkaderan demi terciptanya kader Bangsa, Ummat dan Persyarikatan.


Penulis adalah Kader dan aktivis IMM Cabang Ciputat pada Kurun 1991-1995, saat ini diberi amanah menjaid Wakil Rektor III Universitas Muhammadiyah Tangerang
Disampaikan dalam acara Stadium General dengan thema : “Aktualisasi Kader Ortom/IMM sebagai Pelopor, Pelangsung dan Penyempurna  AUM”
dalam rangka Musyawarah Cabang IX Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Cabang Kota Tangerang
Di Aula Aula DPD KNPI Kota Tangerang
Pada Sabtu-Ahad, 23-24 Juli 2011

Kajian Politik

MENCARI IKON KEBANGKITAN KAUM MUDA BANTEN
Oleh : Drs. Desri Arwen, M. Pd
(Intelektual Muda Muhammadiyah)

Perjalanan bangsa kita selama 103 tahun terakhir sejak kebangkitan nasional, jujur harus diakui, telah banyak kemajuan yang telah kita capai, meskipun memang masih lebih banyak lagi yang belum dan mesti kita kerjakan. Saking banyaknya permasalahan yang kita hadapi, terkadang orang cenderung larut dalam keluh kesah tentang kekurangan, kelemahan, dan ancaman-ancaman yang harus dihadapi yang seolah-olah tidak tersedia lagi jalan untuk keluar atau solusi untuk mengatasi keadaan.
Perkembangan kehidupan berbangsa dan bernegara terus menerus bergerak cepat, dan memerlukan langkah-langkah konsolidasi yang tersistematisasikan. Berbagai fungsi yang bersifat tumpang tindih perlu ditata ulang. Berbagai kegiatan yang alfa dikerjakan, perlu ditangani dengan cara yang lebih baik. Figur kaum muda Indonesia yang dibutuhkan saat ini adalah figur-figur yang bersedia membiasakan diri untuk mengerjakan apa saja yang semestinya dikerjakan guna memperbaiki keadaan dan meningkatkan produktifitas kita sebagai bangsa dan negara.
Dan dalam figurasi kaum muda di tingkat nasional, banyak yang belakangan ini muncul dengan gagasan-gagasan cemerlang dan memiliki tempat dalam konteks nasional, baik dalam kancah politik, bisnis, budaya, sosial kemasyarakatan dan lain sebagainya. Institusi-institusi bisnis, politik dan pemerintahan semakin mengakomodir anak-anak muda berbakat untuk menempati posisi-posisi strategis. Tak perlu kita sebut satu persatu, karena wajah-wajah mereka pun kerap nongol dalam pelbagai media massa. Bagaimana dengan dinamika kaum muda dalam konteks local di wilayah Provinsi Banten, siapakah yang dapat kita sebut sebagai ikon kebangkitan kaum mudanya?
Banten antara Tantangan dan Harapan
Provinsi Banten merupakan salah satu daerah pemekaran dari wilayah Provinsi Jawa Barat yang ditetapkan berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tantang Pembentukam Provinsi Banten dengan wilayah meliputi Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang, Kabupaten Serang, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Cilegon dan Kota Serang. Sebagai provinsi yang relatif masih sangat muda, Provinsi Banten tentu menghadapi berbagai tantangan, ketertinggalan, dan permasalahan dalam seluruh kehidupan masyarakatnya
Provinsi Banten mempunyai potensi yang dapat di daya gunakan dan di manfaatkan secara optimal untuk dijadikan modal dalam mengatasi berbagai tantangan, ketertinggalan  dan setiap permasalahan yang timbul. Berdasarkan data yang didapatkan dari Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) Provinsi Banten (www.bkpmd.banten.go.id), bahwa Banten merupakan kawasan andalan nasional, dengan sektor unggulannya adalah industri. Industri yang telah tumbuh di Provinsi Banten sebanyak 1.623 industri dengan 72 jenis produk. Hasil produksi industrinya pun telah diekspor ke berbagai negara dengan nilai ekspor setiap tahunnya terus meningkat.
Namun provinsi yang terbilang masih muda ini menghadapi persoalan pengangguran. Data yang ada menunjukkan jumlah penganggur terbuka di Banten naik dari 678 ribu orang (Februari 2010) menjadi 697 ribu orang (Februari 2011). Kepala Bidang Statistik Sosial BPS Banten, Bambang Luarso, menyatakan meningkatnya jumlah penganggur terbuka itu antara lain disebabkan oleh peningkatan jumlah angkatan kerja. Jumlah angkatan kerja pada tahun 2011 ini memang mengalami peningkatan cukup tajam, yakni dari 4,79 juta orang pada Februari 2010, menjadi 5,16 juta orang pada Februari 2011 (www.seputar-indonesia.com, 6/5/2011). Provinsi Banten pun menempati posisi sebagai provinsi dengan angka pengangguran tertinggi di Indonesia.
Selain jumlah angkatan kerja yang meningkat, peningkatan angka pengangguran terbuka juga disebabkan oleh banyaknya pendatang dari daerah lain yang masuk ke daerah Banten untuk mencari pekerjaan. Bahkan, apa yang tengah dihadapi Pemprov Banten dialami pula oleh daerah-daerah lain, meski mungkin dengan tingkat keparahan yang berbeda. Apa yang dihadapi Banten sama sekali bukan persoalan baru. Meskipun Banten mencatat pertumbuhan ekonomi pada 2010 sebesar 5,94 persen dan pada Triwulan I 2011 meningkat jadi 6,52 persen tetapi tetap saja Provinsi Banten menjadi salah satu daerah dengan angka pengangguran tertinggi. Ada indikasi Pemerintah daerah terjebak pada indikator makro yang nyaris tidak memiliki implikasi pada pemberantasan pengangguran.
Tantangan bagi Kaum Muda Banten
Kaum muda merupakan kelompok sosial yang memiliki peran strategis dalam proses kebangsaan di tanah air kita selama ini. Kelahiran Budi Utomo (1908), sumpah pemuda (1928), revolusi kemerdekaan (1945) serta gerakan reformasi (1998) merupakan sebuah bukti sejarah akan peran kaum muda dalam menentukan arah kehidupan kita berbangsa dan bemegara. Kaum muda bagaimanapun statusnya, telah melakukan investasi sosial yang amat banyak bagi peletakan bangsa Indonesia. Kelompok inilah yang selama ini selalu berada di garda terdepan dalam penyelamatan berbagai persoalan sosial yang terjadi.
Oleh karenanya Arif Budiman melihat sosok kaum muda merupakan sosok yang penting dalam setiap perubahan, karena kaum muda bergerak atas nilai-nilai idealisme dan moralitas dalam melihat persoalan yang ada. Mereka adalah sosok yang merindukan perubahan dan sesuatu yang baru dalam hidup ini. dan di negara manapun, sosok kaum muda selalu menjadi perhatian yang khusus oleh banyak kalangan. Sebab di tubuh kaum muda inilah segenap tumpuan masa depan bangsa dipertaruhkan. Orang bijak sering mengatakan, masa depan bangsa yang baik adalah masa depan yang memiliki kaum muda yang unggul, kompetitif dan baik pula saat sekarang.
Di Banten saat ini bermunculan tokoh-tokoh muda yang mampu menarik simpati masyarakat dan merebut posisi-posisi penting dalam konteks perpolitikan lokal maupun konstibusi mereka dalam pengembangan sosial kemasyarakatan. Sekedar menyebut nama, sosok Tb. Iman Ariadi mantan Ketua KNPI Banten saat ini berhasil duduk sebagai Walikota Cilegon, atau Arif R. Wismansyah, pebisnis muda yang juga menjabat Wakil Walikota Tangerang, atau Andika Hazrumi yang menjadi anggota DPD RI Banten serta Zaki Iskandar yang menjadi anggota DPR  RI, dan Ahmad Amarullah, mantan Sekjen KNPI Banten dan saat ini aktif dalam berbagai organisasi kemasyarakatan sekaligus juga akademisi dan tokoh inteleketual muda di Banten 
Perhatian dan optimisme untuk kemajuan masyarakat Banten bersama kaum muda untuk melakukan sebuah perubahan tentu benar adanya demikian, sebab sosok kaum muda adalah sosok yang memiliki karakter yang unik. Diantara keunikannya itu adalah, bahwa kaum muda memiliki semangat baru dan senantiasa bergejolak, keberanian untuk mengambil resiko besar, serta memiliki pandangan yang jauh menembus masanya. Buktinya, melalui tangan kaum mudalah kemerdekaan Republik ini bisa direbut dari jajahan kolonial. Di tangan para ikon kaum muda Banten, kita boleh berharap kemajuan dan kebangkitan Banten ke depan bukan lagi sekedar mimpi namun mampu mewujud dalam kenyataan. Wallahu a’lam bishowwab!